Paska peristiwa ‘pembersihan Ghaza” pada pertengahan Juni lalu, yang terpaksa dilakukan Hamas untuk meredam aksi senjata yang sulit dikendalikan, maka perbedaan antar Hamas dan Fatah akhirnya terjawantah dalam bentuk pemisahan wilayah. Ghaza dikuasai oleh Hamas dan Tepi Barat dikuasai oleh Fatah. Sejak itu, berbagai informasi pun berhembus di media massa. Gelombang pemberitaan yang meliput peristiwa itupun menyergap hampir seluruh head line surat kabar. Sayangnya, banyak realitas yang tidak mampu dijelaskan oleh Hamas secara memadai, karena kelemahan mereka dalam wilayah publikasinya. Sementara di sisi lain, Fatah secara leluasa memang mempunyai banyak sarana untuk mengguyur media massa dengan informasi yang tentu saja mendukung tindakannya, bahkan melakukan black campaign terhadap Hamas.
Meski banyak peristiwa penting yang mencerminkan ketulusan Hamas dalam mengelola konflik ini, tapi tidak sedikit kebohongan publik dengan ragam informasi yang yang disebarkan media massa yang menyudutkan Hamas. Karenanya, kita perlu banyak mengetahui soal apa yang terjadi di Ghaza dan Tepi Barat paska tragedi pertengahan Juni itu.
Dalam Skup Politik
Diakui atau tidak, Hamas di Ghaza memang mendirikan sistem pemerintahan militer. Begitupun di Tepi Barat yang hampir dalam berbagai aspek, milisi bersenjata yang banyak menjalankan program-program pemerintahan. Namun peran aparat keamanan di Ghaza, jauh berbeda denga di Tepi Barat. Di Ghaza, Fatah leluasa menggelar seminar, maupun acara-acara publik yang digunakan sebagai sarana melontarkan kritik pedas kepada Hamas. Fatah bahkan bisa mengorganisir berbagai aksi demonstrasi yang tidak direspon Hamas kecuali ketika para demonstran mulai melakukan pelemparan batu atau aksi vandalisme yang merusak kepentingan umum.
Peristiwa agak hangat soal ini adalah sikap Fatah yang melakukan politisasi shalat Jum’at untuk mengkoordinir aksi demonstrasi menentang Hamas. Dan aksi itu dilakukan di lokasi shalat Jum’at yang biasa digunakan Hamas, atau berdekatan dengan lokasi Hamas.Yang menggelikan, sebuah televisi berhasil merekam sejumlah jamaah juma’tan ala Fatah yang malah asyik minum-minum jus, makan biskuit, ngobrol, sibuk menelpon dengan ponsel bahkan merokok sementara shalat Jum’at tengah berlangsung. Usai Jum’atan para pendukung Fatah melakukan aksi ke gedung Parlemen dan melempari gedung itu dengan batu.
Dalam salah satu acara peringatan hari jadi gerakan Fatah, mereka bisa menggelar aksi demonstrasi dengan mendatangkan sejumlah tokoh pimpinan Fatah yang sebenarnya hanya melibatkan 5% dari penduduk Ghaza, namun kemudian melontarkan kritikan dan protes yang luar biasa terhadap Hamas. Setelah acara peringatan tersebut, seluruh pimpinan Fatah bisa pulang ke rumah masing-masing tanpa ada yang menangkap atau melakukan aksi penghalangan di tengah jalan. Tak ada, aksi serangan tembak dan rudal ke rumah-rumah mereka, sementara sebaliknya, sejumlah petinggi Hamas banyak yang menjadi target penangkapan dan pembunuhan. Dalam acara-acara Fatah itu, para peserta bahkan meminum anggur, merokok dan bercanda serta mengobrol, hanya sedikit saja di antara mereka yang ikut shalat. Bagaimana dengan kegiatan Hamas di Tepi Barat? Jawabannya berbeda seratus delapan puluh derajat.
Pimpinan Hamas menjadi buron dan semua aktifitas gerakan Hamas di Tepi Barat, adalah terlarang. Nyaris tak ada aktifitas yang bisa dilakukan mereka untuk mengumpulkan orang. Mereka bahkan dilarang hanya untuk mengadakan sebuah acara kecil semisal menyambut atau memberi penghargaan pada para pelajar yang berhasil lulus dalam ujian sekolah tingkat SMU. Kelompok pelajar Islam yang berada di bawah koordinasi Hamas, baikyang berada di sekolah maupun di kampus-kampus Palestina sebagiannya ditangkap dan diancam bunuh, bahkan ada pula yang dipaksa untuk mengundurkan diri dari kampus, lantaran terlibat acara penghargaan itu. Bahkan saat ada kader Hamas yang ingin menggelar resepsi pernikahanpun mereka dilarang. Para kader Hamas diserang dengan tembakan, lemparan batu dan juga pukulan. Itu yang terjadi saat dilakukan resepsi akad nikah di kampung Kfar Aqeb, utara kota Jerussalem, pada awal September yang baru lalu.
Demikianlah, Fatah di Ghaza dibolehkan dan bebas melakukan aktifitasnya hingga bebas pula membunyikan lagu-lagu mereka sekaligus menempel dan memasang spanduk Fatah di Ghaza, sementara Hamas di Tepi Barat adalah musuh nomor satu yang harus dilarang dalam bentuk apapun.
Dalam Skup Penegakan HAM
Menurut laporan Lembaga pemantau HAM internasinal, jumlah anggota Hamas di Tepi Barat yang ditangkap melebihi dari 450 orang, dan hingga kini masih sekitar separuh dari jumlah tersebut berada di dalam penjara. Sumber-sumber Hamas menyebutkan bahwa mereka yang ditangkap dan ditahan mengalami penyiksaan fisik dan mental yang cukup berat. Ada di antara anggota Hamas yang mengalami lumpuh di kaki dan lututnya akibat penyiksaan di sebuah tahanan di Tolkarem. Perang dan teror terhadap kebebasan individu terus berlangsung di Tepi Barat hingga melanggar HAM anggota Hamas secara individu.
Fatah bahkan melarang aksi demonstrasi untuk mendukung pembelaan atas penegakan HAM atas para tawanan Palestina yang meringkuk di penjara Israel. Itu juga yang dicatat oleh relawan HAM di Palestina, bahwa kepolisian Nablus melarang apapun aksi demonstrasi yang dilakukan. Hasil analisa yang dilakukan Hams, dalam 80 hari, Hamas mengalami lebih dari 1000 kali serangan di Tepi Barat, yang menimpa para kader dan yayasannya, oleh orang-orang Fatah dan juga milisi bersenjata keamanan yang berada di bawah komando Abbas.
Hamas dalam keterangannya menyebutkan bahwa, “Sejak meletusnya peristiwa Ghaza, di hadapan kami terjadi berbagai tindak kekerasan y ag dilakukan orang-orang Fatah dan sayap kemanan Presiden Abbas.” Mereka menrut Hamas, sama sekali tidak memelihara hukum apapun hingga begitu mudah mengucurkan darah, membunuh para syuhada, melukai dan menculik, menangkap, membakar gedung milik yayasan yang digunakan untuk kepentingan umum, merusak kehormatan sekolah, masjid dan rumah-rumah.
Secara rinci, Hamas mengemukakan ada 80 tindak kekerasan setiap hari sejak tanggal 11 Juni 2007 hingga 31 Agustus 2007, lebih dari 1007 serangan meliputi 639 kali aksi penculikan dan penangkapan kader Hamas, 36 aksi penembkan senjata, 175 serangan terhadap Yayasan dan Organisasi milik Hamas, 156 serangan terhadap aset pribadi anggota Hamas, 25 serangan terhadap kantor media massa Hamas, 17 serangan terhadap aset parlemen, 34 serangan terhadap dewan kota dan kampung yang menjadi basis suara dukungan bagi hamas, 17 serangan ke arah masjid, dan 163 serangan ke berbagai universitas dan para mahasiswa.
Meskipun demikian, dalam bayannya, Hamas tetap menjelaskan akan berupaya untuk menahan diri dan tidak melakukan pembalasan. “Kami nyatakan dengan penuh keyakinan bahwa kami tetap mengakui seluruh kelompok yang ada di Palestina, termasuk gerakan Fatah yang mempunyai hak politik dan hak secara nasional untuk dihormati dan dilibatkan dalam lapangan politik. Tapi kami sekali lagi bertanya, mengapa kami masih mendengar hingga saat ini di Tepi Barat ungkapan yang melarang gerakan Hamas. Mengapa pula kader kader kami dituduh sebagai anggota kelompok ilegal?”
Ada lebih dari seribu pelanggaran HAM yang menimpa para individu dan yayasan Hamas berikut seluruh aset yayasan dan aset pribadinya. Langkah seperti ini telah pula memakan korban meninggal dan luka, serta ada ratusan orang yang kemudian ditangkap dari anggota Hamas tanpa ada tuduhan kesalahan yang mereka lakukan. Meskipun demikian, pemerintahan Abbas tidak satupun mengakui bila aksi-aksi itu melibatkan anggotanya, baik sayaap keamanan maupun dalam struktur gerakan Fatah sendiri. Padahal contohnya tidak satu kasus, melainkan banyak. Ambil contoh ketika pemerintahan versi Abbas yang dipimpin Salam Fayadh justru membekukan paksa 103 yayasan, karena dianggap ilegal. Ini jelas pelanggaran HAM untuk bisa berorganisasi dan menyampaikan pendapat. Apalagi, dominan yayasan tersebut selama ini bergerak di bidang sosial, membantu keluarga tawanan, advokasi tahanan Palestina, menyalurkan dana untuk keluarga para syuhada, yayasan pendidikan Al Quran dan sebagainya.
Dalam Skup Kebebasan Pers
Fatah hingga kini masih melarang dua harian milik Hamas yakni koran Palestine dan Ar Risalah untuk dicetak dan dijual di Tepi Barat. Para pengelola bahkan loper harian Palestine di Tepi Barat bahkan diangkap oleh milisi resmi maupun non resmi pendukung Abbas. Kondisinya bahkan begitu menegangkan hingga ada ancaman untuk membakar dan menghancurkan aset percetakan milik Palestine dan Ar Risalah bila tetap melakukan aktifitas percetakan di Tepi Barat.
Pusat Pertimbangan HAM yang selama 80 hari melakukan pemantauan, menetapkan bahwa Tepi Barat benar-benar melakukan pelanggaran HAM hingga dalam bentuk yang paling kecil. “Kami tidak dapat menggali informasi tentang praktik yang terjadi di Tapi Barat, disebabkan tidak adanya cabang organisasi kami di sana. Hingga saat ini, masih terus berlangsung pelarangan cetak dan penyebaran dua harian Ar Risalah dan Palestine yang merupakan harian miliik Hamas, dan ini merupakan pelanggaran yag sangat jelas bagi kebebasan pers dan kebebasan kegiatan pers. Bahka juga melanggar undang-undang kebebasan mengungkapkan pendapat.”
Di sisi lain, Pemeritah Ghaza yag dikendalikan Hamas membolehkan setiap hari koran dan media massa di Rammallah untuk dibagikan di Ghaza. Bahkan meskipun harian harian itu kerap melaporkan berbagai peristiwa bohong dan melakukan pemburukan citra terhadap Hamas. Kasus paling besar yang mungkin dikait-kaitkan dengan urusan pers adalah penangkapan wartawan Shakhr Abu Aun. Tapi penangkapan Shakhr bukan karena pemberitaan yag dibuatnya melainkan karena ada kasus penyalahgunaan uang dan terkait dengan urusan Shakhr dengan pihak lain. Shakr juga tak mengalami pemukulan atau penyiksaan sebagaimana dialami oleh wartawan Hamas, Mushtafa Shabri di Qalqiliyah yang ditangkap dan dipukuli.
Dalam Skup Perlawanan
Kita tidak perlu banyak berbicara dalam hal ini. Karena jelas-jelas Abbas telah melarang semua aktifitas perlawanan yang menargetkan Israel. Abbas bahkan menganggap Hamas sebagai organisasi ilegal karena perlawanan yang dilakukannya terhadap Israel. Dan sikap tersebut, jelas makin membuka peran penjajah Zionis Israel untuk lebih leluasa menduduki Palestina. Seandainya Hamas pada akhirnya habis, bisa dikatakan tidak ada lagi benteng paling kuat untuk bisa menghadapi kekejaman Zionis Israel. Presiden Palestina Abbas mengecam aksi serangan organisasi perawanan Palestina di Ghaza yang melakukan serangan rudal ke lokasi penjajah Zionis Israel. Padahal jelas aksi serangan rudal itu adalah jawaban atau balasan terhadap kekejaman Zioinis yag terus meneerus melakukan serangan pembunhan terhadap rakyat Palestina. Dalam konferensi persnya, Abbas mengatakan, “Rudal-rudal yang dilontarkan oleh pejuang Palestina terhadap target Zionis Israel adalah memperburuk proses perdamaian.” Abbas jelas tutup mata terhadap kenyataan sepanjang bulan Agustus lalu, Zionis elah membunuh 50 orang rakyat Palestina, di mana 10 persennya adalah anak-anak. Belum lagi yang terkait dengan penculikan warga yang terus berlangsung sepanjang waktu. Penting dicatat, Fatah bukan perang terhadap Hamas saja dalam hal ini, tetapi perang terhadap semua anasir perlawanan yag mengupayakan kemerdekaan Palestina dari Zionis Israel.
Dukungan Tetap untuk Hamas
Meski mendapat tekanan besar dan kemampuan yang serba terbatas, tapi publik tetap bisa membaca dan memposisikan diri secara benar. Maka, tidak mengejutkan sebenarnya bila belakangan channel CNN, menurunkan hasil polling yang mengejutkan dari survey mereka di Palestina. Meskipun mendapat tekanan luar biasa oleh Fatah, ternyata mayoritas publik Palestina masih memberi kepercayaannya kepada Hamas . Soal pertanyaan seputar siapa yang akan dipercaya oleh warga Palestina, di antara kelompok Fatah, Hamas, kelompok lain atau pilihan keempat, tidak ada yang bisa dipercaya, 52% dari responden yang berjumlah 4.807 orang itu menegaskan pilihannya kepada Hamas. Sedangkan 814 responden, atau sekitar 17% saja yang menyatakan masih percaya kepada Fatah. Posisi ini dibawah posisi responden yang menjawab; tidak ada. Hal lain yang membuat kaget pembuat polling tersebut adalah 1.346 suara (28%) yang menyatakan tidak percaya dengan siapapun. Sumber : Aljazeera,Islamonline.net, Palestine information center. (Tarbawi 164)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar